Thought

Kenangan dari Semarang

Selama 4,4 tahun nikah, aku dan suami terhitung udah 5x pindah. Dari rumah orang tua kami yang di Pondok Kopi dan Pondok Kelapa, kami pindah ke Kalibata -Cirendeu – Pudak Payung (Semarang) – Gedawang (Semarang) – Cirendeu.
Ga terasa udah 20 bulan di Semarang, udah 2x pindah kontrakan. Saatnya balik lagi ke rumah sendiriii…

Paling sedih pas perpisahan di sekolahnya Raisa karena dia udah nyaman banget sama teman-teman dan guru-gurunya disini. Aku pun udah cocok dengan para ibu-ibu orang tua muridnya, baik-baik banget. Sering cerita dan tukar pikiran selama nunggu anak di sekolah.

image

image

Selama tinggal di Syailendra Residence, aku dan suami termasuk orang yang ansos. Oh nonono antisocial, but just socially selective, hahaha…. Utamanya aku, disini jadi belajar tentang bertetangga. Biasanya cuma kenal tetangga 2-3 tetangga aja tapi disini jadi kenal 30 tetangga, hehe… Tetangga-tetangganya baik-baik banget.

Tetangga plus mbak kesayangan yang sering banget aku repotin
Tetangga plus mbak kesayangan yang sering banget aku repotin

image

image

Waktu Raisa ulang tahun pun yang diundang hampir datang semua
padahal aku jarang datang kalau ada acara ngumpul ibu-ibu seperti oengajian dan arisan, upss.. Rumah di SR yang kami tempati pun punya sirkulasi udara yang bagus dibanding waktu di Mega Residence. Raisa yang dulu di Megares sakit hampir tiap bulan, selama di SR cuma sakit 1x aja.

Disini, aku yang ga bergantung sama ART diharuskan berinteraksi sama para tukang sayur, tukang taman, tukang jajanan, tukang roti, orang catering dan yang lainnya. Sewaktu aku bilang mau pindahan, mereka merasa keilangan karena langganannya juga bakal berkurang, hahaha…. Ga sih bukan karena itu aja, tapi ya punya kedekatan lah selama aku dan mereka berinteraksi. Karena selama ini, aku cuma tau beres masalah luar rumah dari dalam rumah aja.

Semarang kota kecil yang menyenangkan. Menyenangkan karena semua serba murah, ga macet, kotanya terasa damai, kemana-mana dekat. Ga nyangka bisa tinggal kedua kalinya disini setelah lulus kuliah. Mungkin dulu waktu kuliah tidak terasa membosankan tinggal 4 tahun disini tapi ketika punya anak dan tinggal disini, terasa kurang sekali Semarang sebagai kota ramah anak. Kenapa? Wisata edukasi bagi anak bisa dihitung dengan jari. Begitupun dengan tempat rekreasi dan hiburan. Semoga ke depannya bisa bertambah dan menjadi kota ramah anak.

Well, thank you Semarang. I learned a lot (again)
:*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *