Family · Love

Celoteh Raisa

Ada perasaan luar biasa bahagia melihat dan mendengar sang buah hati bisa ceriwis dan cerita ini itu. Terlebih lagi denger suara merdunya kalau manggil “Ayah dan Bunda”.

Raisa termasuk agak telat bicara karena sampai umur 18mos dia baru bisa 1 kata “jatuh”. Baru nambah perbendaharaan kata “ayah” umur 20mos. Dan ada tambahan kata2 lain di umur 22mos walau hanya 1 suku kata belakang di setiap kata, misal bunda jadi nda.

Entah apa penyebab Raisa agak telat bisa bicara. Frekuensi nonton Raisa sendiri sangat jarang. Kalaupun nonton, cuma nonton si Bolang Bocah Petualang (emaknya juga suka, hehe) Stimulasi pun terus menerus. Mungkin lingkungan sekitar rumah yang jarang anak kecil dan tidak adanya tempat untuk bersosialisasi seperti taman. Terlebih lagi dirumah cuma ada gw, raisa, dan ART. Sepi. Ayahnya pulang tiap weekend aja.

Umur 23mos pindah ke Semarang. Alhamdulillah sepertinya pencerahan dari sini. Lingkungan rumah sangat mendukung karena banyak teman2 seusia Raisa dan tentunya mereka ceriwis2. Raisa keliatan seneeengg banget main sama mereka karena sebelumnya ga pernah kayak gini di Cirendeu.

Pesta roti. Duh, kok makannya sambil berdiri? :D
Pesta roti. Duh, kok makannya sambil berdiri? :D

image

Umur 25mos dimasukin sekolah dan pertambahan kata2 Raisa sangat pesat. Bukan hanya 1 kata, bahkan 2-3 kata sekali ucap. Bahagia? Tentu aja! Dan di umur 27mos terdengar suara paling indah yang pernah gw dengar dari Raisa. Secara utuh, jelas, dan fasih dia memanggil “BUNDA”. Dan saat itu juga gw nangis bahagia. Dasar cengeng! 😀

Raisa sekarang berusia 2y 7mos. Udah makin lancar ngomongnya.
Sering untuk ngetest dan dengar celotehannya dgn fasih (walau masih cadel), gw sering ngumpet dan dia akan nyari sambil ngomong “bunda dimanaaa?”

Atau gw sengaja taro barang sembarangan supaya denger protesnya dia “jangan tayo sini ya”.

Sengaja jg salah sebut waktu dia makan ayam goreng kesukaannya “Rai, kulitnya udah abis. Sekarang daging (ayam) nya dimakan dong” dan dia ngejawab “ini bukan daging bunda, ini ayam”

Atau pernah juga tanpa sengaja gw ngotot kalau di atas meja itu obat Ayahnya, bukan obat Raisa. Lalu dia protes “ini obat Aca, obat Ayah yang itu”. Pas gw liat, ehiya obat si bocah, warnanya sama sih.

Atau pas lagi bacain buku cerita dan gw nunjuk “lalu pergilah bebek itu bersama induknya” dan Raisa protes “ini bukan bebek, ini kelinci.” (Sambil praktekkin lompat kelinci)

Semuaaaaa celotehanmu, ceriwismu, dan suara cemprengmu adalah suara terindah buat kami. Dan kekhawatiran kami karena keterlambatanmu bicara, berlalu sudah. Benar kata tantenya suami, “klo sudah saatnya bisa ngomong ya dia bakal ngomong. Tinggal tunggu waktunya aja. Ga usah khawatir berlebihan”.

Untung bundamu khawatirnya masih dalam taraf normal, ga depresi dengan ngebawa kamu ke terapis dan harus terapi berkali2 yang akan ngebuat kamu trauma dan bikin dompet kami lelah 😀

Terima kasih Ya Allah, “permata” kami sudah besar

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *