Thought · Uncategorized

Catatan Kampanye Pilpres 2014

Sepertinya pilpres kali ini adalah pilpres tergila, terheboh, dan ter ter lainnya. Cuma ada 2 pasang capres cawapres yang bertarung. Dan tentunya orang beranggapan memilih hitam atau putih, kanan atau kiri, benar atau salah. Tentunya, masing-masing kubu dan para pendukung mengklaim kalau pilihan mereka PALING BENAR. Di pilpres ini pula hubungan silaturrahim antara teman, sahabat, saudara, keluarga, jadi terganggu, rusak, atau malah putus. Dahsyat kan?

Well, awalnya gw bersikap netral terhadap 2 calon ini. Karena menurut gw, dua-duanya belum pantes jd Presiden. Jadi sebelum masa kampanye pilpres dimulai, gw ya santai-santai aja, bahkan gw ga ikut pemilu legislatif. Bukan sengaja golput, tapi masalah daftar pemilihan. KTP gw Jakarta sedangkan sekarang stay di Semarang. Mau ngurus formulir A5, sumpah males banget. Pake KTP doang ga bisa. Toh gw ga percaya sama partai.

Makin mendekati masa kampanye, ngeliat status temen-temen di facebook kok makin gila ya? Terlebih yang di share itu berita yang ngejelek-jelekin para capres. Hampir percaya sama apa yang temen-temen share. Untungnya gw bukan tipe IRT yang suka telen mentah-mentah berita yang ada. Gw cari info, obrak obrak google buat nyari info tentang para capres cawapres. Kalau suami sih dari awal udah punya pilihan.

Issue-issue yang berkembang adalah pelanggaran HAM, 2 kewarganegaraan, aliran sesat, PKI, non muslim, surat kejaksaan palsu, pencitraan, iklan kematian, didukung zionis, syiah, capres boneka, tabloid dam media-media fitnah lainnya. Gw liat, issue-issue atau fitnah tersebut lebih banyak diarahkan ke salah satu capres. Berita-berita dengan cepat mengalir karena adanya social media yang orang dengan gampangnya mengakses berita dan meng-share di socmed miliknya DAN disertai dengan kata-kata nyinyir, kasar, sinis, dan kata-kata barbar lainnya. Miris. “Tanpa disadari, Pilpres ini rupanya telah sedemikian ganasnya mengubah manusia” -hotradero

“Kampanye dengan fitnah akan membuat pelakunya terbiasa dengan enteng melakukan hal itu di kemudian hari. Tak ada lagi rasa rikuh. Ketika watak memfitnah sudah mulai terbentuk, si pemfitnah tak perlu punya kebencian pribadi kepada sasaran fitnah. Fitnah itu mengandung kekerasan: hati nurani sendiri disekap, daya pikir orang banyak disingkirkan dan fakta dijungkir balik. Cepat atau lambat, kekerasan terhadap hati nurani dan akal sehat itu membentuk watak orang yang berulang kali melakukannya” (gm)

Pas masa tenang, masih aja ada fitnah ke salah satu capres yang sedang menunaikan ibadah umroh. Kesalahan dicari-cari atau sengaja dibuat pertanda mereka punya banyak waktu untuk memperhatikan capres tersebut dibanding mempelajari tentang capres dukungannya sendiri.
“Black campaign atau negatif campaign yang dilakukan terus menerus terhadap pesaing munjukkan ketidakyakinan akan mutu calon sendiri” -gm (catett).

Lucunya, apapun yang dilakukan oleh si capres sasaran empuk fitnah, pokoknya pencitraan! Ngupil pencitraan, kentut pencitraan, mandi pencitraan, ngorok pencitraan, kerokan pencitraan, usap ketek pencitraan. Ya, seperti yang dibilang tadi “Ketika watak memfitnah sudah mulai terbentuk, si pemfitnah tak perlu punya kebencian pribadi kepada sasaran fitnah”. Mau ngelakuin apapun yang bener, pasti bakal salah terus di mata mereka.

Ga, gw ga nuduh fitnah sama teman-teman yang suka share link “kebencian”. Karena mereka ngeshare aja kan dan mereka percaya semua berita tersebut. Penulis berita itu yang gw maksud. Yaahh pasukan cyber beraksi. Mau data dan info dipelintir kayak gimana biar keliatan shahih, itu tugas mereka.

Gimana dengan relawan capres nomor yang sering difitnah? Apa ngejelekin capres nomor lawan? Hehe… Ini yang gw liat, mereka lebih kalem. Berkomentar pun dengan kata lebih santun atau lebih memilih diam. Apa karena salah timses capres nomor 2 seorang teknokrat dengan kampanyenya yang santun jadi menularkan itu para pendukungnya? Kalau yang timses capres nomor 1 kan si zonk zonk itu, ngomongnya nyinyir melebihi cewek, yaaa nular deh, wah gw salut banget sama si zonk, belajar darimana kenyinyiran sehebat itu, hahahaha….

Jujur, gw eneg sama kampanye kali ini walaupun seru karena hampir seluruh rakyat. Indonesia berpartisipasi, termasuk yang di luar negeri.
Fitnah dan black campaign dimana-mana, belum lagi hobi baru para pendukung yang mati-matian ngejelekin capres lawan atau bahkan ngajak ribut pendukungnya capres lawan.

Hari ini saatnya pemilihan. And I have voted

Salam 2 jari. Indonesia damai
Salam 2 jari. Indonesia damai

Dibalik suara yang gw sumbang untuk bapak Joko Widodo-Jusuf Kalla, udah banyak gw nerima banyak suara sumbang. Gw dibilang kafir, ga ngerti agama, dicemooh, dan terakhir dibilang “kemana akal sehatmu, teman lama?” (Silahkan cek fb gw, hehe) Well, gw sempat lupa siapa lo karena emang ga pernah interaksi. Mikir bentar dan baru inget ternyata teman SMA. Ucluk ucluk tanpa babibu langsung ngomong kayak gitu. Makasiiii… “Sopan” sekali bahasamu nak. Pernah saya tuduh teman-teman sendiri “anda kafir”? Atau bahkan mati-matian jelek-jelekin capres pilihan anda? Malah saya selalu bertanya tentang capres pilihan mereka, untuk tahu penjelasan versi mereka.
Nah kan keliatan siapa yang agresif. Aaahh itu kan oknum. Eh tapi oknumnya kok banyak bener yang kayak gitu? Sorry to say,,,, gw yang ngerasain.

Ada sahabat gw yang berbeda pilihan, kami diskusi. Diskusi dengan sahabat gw si rempeyek bakwan alias Rizki Saputra emang asik. Ngomongin soal kekurangan dan kelebihan masing-masing capres pilihan kami. Bukan ngejelekin teman sendiri bahkan ngedjuge ga ngerti agama, kafir, bla bla bla. Situ Tuhan? Buat kami, masalah agama dan ibadah adalah hal sensitif yang hanya Allah yang Maha Tahu, bukan manusia yang menilai ibadah orang terlebih ibadah dijadikan bahan lucu-lucuan dalam bentuk kartun, fitnah dalam kampanye.

Ini pesta demokrasi yang setiap orang berhak menyuarakan aspirasinya dan tentunya memilih sudah dipikirkan dengan matang. Jadikan ini fun demokrasi not democrazy.

Siapapun Presiden terpilih nanti, mari kita bangun Indonesia bersama dengan bekerja, berpikiran dan tindakan positif. Stop caci maki dan menjelek-jelekkan karena bagaimanapun, dia yang akan menjadi pemimpin kita yang sudah dipilih rakyat Indonesia.

Ada bendera partai kah disana? :)
Ada bendera partai kah disana? :)
Massa tanpa bayaran, relawan tanpa bayaran
Massa tanpa bayaran, relawan tanpa bayaran

One thought on “Catatan Kampanye Pilpres 2014

  1. Well, H-20 sblm nyoblos gw g punya pilihan, cz k 2 capres ini bukan paporit gw, mereka g punya hal yg diunggulkan (visi aja ampir sama), tp byk banget kelemahan d antara mereka. Makin mendekati hari h, ada bbrp sikap / wacana dr tim sukses dr capres ttt yg bikin gw muak, akhirny org yg ptama kali gw kasih tau ttg pilihan gw adlah si mpok ini. Walopun gw beda sm si mpok ini masalah presiden. Debat gw sama dia g pernah ngebahas ttg topic fitnah, tp berdasarkan fakta. & lebih sering ngebahas kelemahan mereka, bukan keunggulan dr mereka.

    so, buat gw perbedaan bukan menjadi bibit2 dr permusuhan, perbedaan gw sm si mpok ini bukanny menimbulakan benci diantara gw dan dia, & sampe saat ini hub kita baek2 aja.

    disetiap debat gw sm si mpok, gw slalu mengakhiri suatu kalimat. Dan d comment ini gw jg mau mengakhiri kalimat tersebu, “semoga pilihan kita benar”.

Leave a Reply to py Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *