Food and Beverage

Beda Kota Beda Kondisi Beda Selera

Wohoooo…. Lama ga berceloteh disini. Maklum, tiap akhir bulan sampe awal bulan, eike sibuk urus bisnis, tsaaahhhh gaya yaaa…. Apalagi bulan ini pindahan rumah (lagi).

Entah kenapa selama di Semarang, gw lebih suka masakan tradisional. Padahal selama di Jakarta, tiap weekend pasti seringnya makan di resto (sok kaya banget) dan milih menu western. Apa mungkin karena weekdays udah bosen kali ya dimasakin ikan asin+sambel super enak ala ART gw. Jadi pas weekend kalau di Jakarta, ga mau jadi kucing, nge-ikan asin terus.

Gw tuh orangnya penasaran. Cuma pengen nyoba, supaya tau dan pernah ke tempat-tempat makan. Nah, jadilah di Semarang selain ke warung makan biasa, nyoba resto-resto hits disini. Banyak resto yang ngadain menu tradisional dan western. Nulis tentang ini karena abis pulang makan malam di restoran Koenokoeni yang bikin gw mikir. Kenapa seringnya kalau makan di restoran Semarang, gw kurang nafsu makan? Pun gw pesen menu tradisional, tetep ga nafsu makannya. Western juga ga nafsu. Tapi giliran makan di pinggir jalan atau rumah makan biasa, nafsu pake banget. Gw curiga, ini karena rasa masakannya yang ga enak atau gw udah males liat daftar harga di buku menu? Soalnya Semarang itu biaya hidup lebih murah daripada Jakarta. Jadi sepertinya perut gw di Semarang menyesuaikan diri. Ini perut mureeehhh bangeeett :)))))

Koenokoeni, restoran dengan konsep klasik dengan koleksi barang-barang antik
Koenokoeni, restoran dengan konsep klasik dengan koleksi barang-barang antik

2 thoughts on “Beda Kota Beda Kondisi Beda Selera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *